Episode Jalan Jalan Ke Ladang

Liburan, bosan karena dirumah terus, sudah sebulan lebih menunggu surat dari kajur belum turun juga, rencananya mau magang diperusahaan,  karena belum juga mendapatkan tempat terpaksa harus bersabar.

Episode kali ini saya berkunjung disebuah ladang milik bapak saya, rencananya akan memanen buah labu yang sudah cukup tua. Nah, perjalanan menuju ke ladang yang cukup lumayan jauh memakan waktu sekitar 30 menit dari rumah di kota, Ketapang. Maklum, ladang bapak saya di jauh sana, Medam (kata orang ketapang) jauh nun di Tempurukan.

Jalanan yang dilalui cukup mulus, karena melewati jalanan aspal ketapang – sukadana, saya mengemudikan kendaraan saya dengan santai sembari melihat lihat pemandangan dikiri dan kanan jalan. Tak lama (30 menit) kemudian, saya sudah sampai disimpang jalan, gang masuk ke ladang, sebuah jalan yang berplester (semen) yang tampak sudah rapuh (retak retak) karena mungkin sering dilewati truk truk pickup kecil yang membawa barang masuk maupun keluar ladang .

Perjalanan masuk ke dalam ladang tidak terlalu lama, saya melalui jalanan 2 tapak yang berpasir (bekas roda 4) yang halus, mulus karena musim kering. Kiri kanan ada lahan penuh ilalang, ada juga rimbun tumbuhan liar yang tak terawat.

Tak lama kemudian sampailah pada suatu tempat, ya kawasan ladang bapak diantara ladang masyarakat yang memilih menjadi petani, tinggal di tempat yang agak dalam, jauh dari keramaian. Tampak beberapa rumah berdinding kayu yang beratapkan seng dan daun nipah. Jarak antar rumah lumayan jauh, sekitar 20-30 meter, disekeliling rumah banyak tanaman pertanian yang dibudidayakan, ada ubi, pisang, sayur dan buah. Tempat ini mengingatkan saya pada tempat tinggal lama saya di Jairan, ya kampung transmigrasi. Teringat dulu ketika pertama kali datang dirumah itu, hanya ada rumah panggung berdinding kayu, dengan kiri kanan lahan kosong yang rimbun penuh semak semak. Kemudian tugas bapak bapak para transmigran mengolah tanah menjadi lahan pertanian.

Ya begitulah, ditempat yang saya kunjungi ini merupakan tempat orang orang yang mendedikasikan dirinya untuk bertani, memulai dari lahan yang kosong, kemudian diolah, ditanami dan akhirnya menghasilkan. Meskipun rumah yang ada sangat sederhana, berdinding kayu, beratap daun, dan tanpa listrik, namun terlihat mereka begitu bahagia, setidaknya tak perlu memikirkan biaya listrik, tak perlu memikirkan permasalahan politik, atau masalah masalah para selebriti, tidur awal bangun awal dan bekerja dengan sehat, bertani. Nah, pada kesempatan itu saya menyempatkan diri untuk mengambil beberapa gambar, sembari mencoba kamera dari hp saya yang jarang tak pakai untuk memfoto. Nah, ini gambar gambarnya..

Foto foto bunga liar, lumayan cantik, kameranya juga mantep…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

One Comment Add yours

  1. fendiharis mengatakan:

    wuih!! kagak ragu deh sama hasil jepretannya om. mantap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s