Nostalgia masa lalu

Nostalgia, itu yang ada dalam pikiranku waktu itu, ketika aku kembali ke kampung yang telah lama tak ku kunjungi. Tempat dimana aku pernah menghabiskan masa masa kecilku dengan sahabat sahabat yang telah banyak aku lupa saat ini. Dimana dulu pernah aku bermain dengan penuh tawa tanpa beban seperti saat ini. Yang kubayangkan sebelum aku mengunjungi tempat itu, pasti sudah tak ada lagi jejak masa lalu yang tertinggal, pasti tempat itu telah berubah, waktu telah membuatnya berubah, berubah menjadi lebih baik pastinya, itu dalam harapanku, sambil berjalan memacu sahabat besiku, aku seperti tak sabar ingin mengunjungi tempat dimana aku pernah menangis, tertawa, belajar dan tersenyum dengan kawan lama.

Setelah 2 jam akhirnya aku sampai ditujuanku, tampak pepohonan rindang telah menjulang tinggi dipekarangan lamaku. Dan tampak bangunan tua kecil terbuat dari kayu yang tak asing dalam ingatan, itu adalah warung tempat dimana ayah dan ibuku mencari nafkah dulu, tempat dimana aku pernah bermain main dengan api, tempat dimana sepeda bapakku yang baru dibeli raib dicuri orang. Dan dulu, yang terlihat hanyalah pohon pohon tinggi yang menjulang ke langit, terlihat dari kejauhan dan dulu aku dengan bangga berucap “itu lho rumahku”, pepohonan “laut” atau kayu sengon, orang jawa bilang kayu lempung, disini tak berharga kalah dengan kayu lokal. Di samping gubug itu tampak pepohonan rindang yang menyejuki tanah dibawahnya, seolah itulah tempat yang nikmat ketika matahari tengah terik menyengat  kepala. Kelapa sawit yang dulunya tak tampak kini telah menjulang tinggi dan berbuah, meskipun tak selebat kelapa sawit yang kurawat. Masih teringat dulu ketika masih kecil, aku bertanya kepada bapak yang ketika itu membawa cangkul sambil menggali gali tanah “Pak kenapa bapak nanam kelapa sawit? yang lain tidak ada yang nanam seperti bapak?” tanyaku kala itu, Bapakk dengan tenang dan tersenyum menjawab “Lihat saja nanti”. Rupanya seperti ini jadinya, kelapa sawit menjadi komoditas utama dikampungku, menjadi tulang punggung penghasilan masyarakatnya, meskipun pabrik ditutup, tetapi tetap saja, kelapa sawit merupakan  hasil utama mereka.

Warung lama

Warung lama

Aku menarik napas panjang, sesekali kupandangi didepan warung itu, tampak tak berubah, hanya warna kayu saja yang agak keriput, maklum sudah sudah lebih dari sepuluh tahun tak kulihat. Bangunan itu masih kokoh berdiri, meskipun tak sekokoh dulu, tak seindah dulu tetapi tetap saja itu mengagumkanku, kayu kalimantan memang luar biasa kuatnya.

Jalanan masih berdebu seperti dulu, jalanan yang dulu terlihat luas kini seperti menyempit dimataku, mungkin karena pandangan mataku dulu sewaktu kecil masih terlalu sedikit melihat dunia, kini semua yang terlihat seperti menyempit, lapangan itu tak berubah, hanya kini tumbuh ilalang yang telah berbunga, setiap hari bertahan melawan panas terik nya matahari juga angin yang berdebu hasil kibasan roda roda yang melaju kencang mengejar mimpi. Ilalang tinggi tertunduk lesu seolah lelah melawan angin dengan beban bunga ada dipucukmu , tingginya setengah badanku, menguning, dan bunganya mulai berterbangan tertiup angin, ilalang tak mau keturunannya punah karena panas yang mengekang, dia menyebarkan benih benih yang berterbangan hingga nantinya akan tumbuh tunas baru yang hijau.

lapangan penuh ilalang

lapangan penuh ilalang

Dari kejauhan aku memandang lapangan itu, tempat dulu aku menyaksikan orang orang bersuka ria menggiring, menendang bola, dan mencetak gol. Masih teringat ketika aku dapati kulit bola yang terlepas karena tak mampu menahan tendangan sang juara yang begitu kuat mengenai badannya. Aku pungut itu dan aku gunakan sebagai tempat batuku, tempat kerikil terlempar dari ketapelku, menembaki burung yang mengolok olok, dan peluruku memang tak pernah mengenainya “aku kalah oleh lincahnya burung kecil itu” seolah burung kecil itu menyanyi meninggalkanku dengan penuh tawa gembira. Tak tampak lagi dari sini atap gedung terbesar di desa ini, tempat dimana kami dahulu bercengkerama, menyaksikan satu satunya televisi ditempat ini. Gedung balai desa yang megah, kini telah tiada dan digantikan oleh masjid yang baru, lebih besar dari dulu, lebih megah dan modern, masjid yang dipindahkan dari bawah sana.

Sekolah lamaku (2012)

Sekolah lamaku (2012)

Sebelah kiri jalan, tampak gedung sekolah yang sama seperti dulu. Tampak atap atap seng yang terlihat berkarat, berkotak kotak terlihat seperti gambar alami yang dibuat oleh air hujan. Gedungnya masih sama seperti waktu dulu aku pernah belajar disana, tak ada yang bertambah tak ada yang berkurang. Dipojok kantin masih tegak berdiri pohon ketapang, sepertinya setia menemani semakin tuanya gedung SD itu. Tak berubah, tak bertambah besar, seperti tak rela mengepakkan rantingmu untuk sedikit naungi atap atap gedungku. Tak ada yang berubah, sepertinya aku memasuki gerbang waktu dan kembali menjadi kecil, teringat kala itu aku bermain main dengan kayu dikolong itu, mengelus eluskan kayu ketanah, menemukan ilmu baru, hentakan dan goresan kayu itu dapat menciptakan tanah yang lebih halus lebih mengkilap layaknya jalan dikota kota, dan itu menjadi jalan imajinasi untuk bus bus kayuku bertualang, dibawah langit langit kayu yang bergemuruh oleh jejak kaki anak anak langit, sesekali sayap sayap itu terdengar mengawasi kami bermain, dia takut kami akan menghancurkan markasnya, gedung yang tergantung oleh tali yang kuat, disana akan ada kehidupan baru dari anak anaknya, dialah lebah, seperti helikopter mata mata, kami ketakutan dan kami tak ada yang berani mengusiknya.

Dalam bayanganku, gedung ini telah tiada, tergantikan oleh gedung gedung baru yang lebih megah. Tergantikan oleh tembok yang baru, warna yang baru dan lantai yang baru. Namun ternyata pembangunan tak menyentuh sekollahku, aku teringat sekolah lamaku disebrang pulau, yang dulunya hampir roboh, lantainya hitam keras seperti batu, kini telah menjadi tempat yang megah dengan lantai lantai yang mengkilap dan tembok tembok yang lebih cerah, dan menyenangkan. Tapi, aku kagum dengan sekolahku yang satu ini, sudah sekitar 15 tahun tetap berdiri tegak dan kokoh, lagi lagi karena kayu besi yang menyusunmu tak tergerus oleh waktu.

Sebelumnya aku telah berkunjung ke sekolah lamaku yang lain, sekolah tempat aku menumpang belajar karena aku pindah mengikuti jejak bapakku. Sekolah yang berada didekat gunung batu, dekat dengan tepian sungai. Rumahku yang dulu ada dibawah bukit batu, halaman belakangnya adalah kumpulan kayu dan tanaman yang rimbun seperti hutan, ada pokok aren, durian dan pohon pohon yang tak kukenal namanya, terdengar riak air gunung yang mengalir disana, tempat dimana aku mengail ikan kesukaanku.

SMP baru di belakang SD

SMP baru di belakang SD

Sekolah ku yang ini telah berkembang, dahulu lapangan itu hanya tempat kambing kambing mencari makan kini telah menjadi gedung baru SMP, dan gedung SDnya terletak dibelakangnya, tampak lebih rapi dan  enak dilihat. Aku sedikit lupa dengan sekolah ini, karena hanya sebentar saja aku mampir dan numpang sekola ditempat ini. Warna gedungnya terlihat cerah dan dihiasi dengan pagar pagar putih yang megah. Teringat dahulu ketika anak anak bermain “guli” peluru dari kaca, kelereng itu kami lempar dan kami hantamkan satu sama lain hingga keluar dari garis lingkaran tanah itu. Permainan berakhir ketika tiada lagi sebiji peluru itu yang tersisa.  Ruangan itu tampak lebih indah, tak lagi terlihat  dan terdengar suara sapi yang mengaum, teringat dulu ketika kami belajar dengan aroma yang nikmat, itulah aroma sapi. Aku bersyukur bisa mengenal tempat ini, tempat yang sejuk, dan kini tampak lebih indah dan terawat. Meski aku iri pa

da sekolah ini karena sekolahku yang lama tiada terawat seperti ini.

SD Sungai Laur

SD Sungai Laur

Akhirnya aku akhiri nostalgia ini, aku harus kembali ke kota itu, tempat dimana kini orang tua dan adik adikku tinggal. Dan perjalanan akan menjadi perjalanan melelahkan, jalanan yang penuh debu dan lubang harus aku lewati, ini mungkin miniatur dunia yang akan aku hadapi. Harapanku, semoga aku bisa kembali ketempat itu, kembali dengan keadaan yang lebih baik, hingga aku bisa sedikit memberikan warna pada sekolahku dulu,  agar guru guruku kembali tersenyum dan anak anak bersuka ria menyambut cahaya.

Iklan

2 responses to “Nostalgia masa lalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s