Ketika Materialisme Menjadi Prioritas

make-money-on-line-thumbKetika materialisme menjadi prioritas, ketika materialisme menjadi tujuan hidup, maka akibatnya adalah keburukan. Meluruskan kembali tujuan hidup ini, yang tak terasa telah sedikit melenceng karena keduniaan, karena kebutuhan materi yang semakin meningkat seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi.
Sambil mendengarkan kuliah dari seorang dosen yang luar biasa, kembali aku menata tujuan hidup yang sedikit banyak telah menyimpang.
Dia menjelaskan, tentang materialisme dan juga sprritualisme, menjelaskannya dan merefleksikannya kepada bangsa Indonesia. Menurutnya bangsa Indonesia ini telah banyak mementingkan materialisme, dan sedikit sekali yang memikirkan spritualismenya. Dicontohkan dari pemerintahan yang buruk, banyak sekali praktek materialisik di dalam kursi legislatif, yudikatif maupun eksekutif. “Ya kalau yang membuat aturan, yang menjalankan dan yang mengawasi jalannya kebijakan hanya memikirkan material saja (cari uang) maka hancurlah negara ini, yang legislatif mengatur agar anggarannya bisa masuk kekantongnya, yang eksekutif memotong anggaran (meninggi2kan anggaran), yang yudikatif dibayar biar mereka bebas, hancur jadinya, tetapi Tuhan memberikan anugrah yang luar biasa sehingga bangsa kita bisa bertahan sampai saat ini” katanya membuatku semakin penasaran.
Ya, sisi materialis membuat orang menjadi lupa dan melakukan apapun untuk mendapatkannya, meskipun itu dilarang, korupsi dan suap seolah menjadi kebiasaan mereka, ya sekarang ini sedang bersih bersih (KPK) tetapi masih banyak juga yang korupsi.
Dan sisi spritualisme yang harus dibangun pada pemikiran kita adalah bahwa kita akan dimintai pertanggung jawaban pada setiap apa yang dilakukan, baik buruknya, sekecil apapun nanti dihari akhir nanti. Jadi harus berpikir berulang ulang untuk mendapatkan kesenangan dunia yang sementara ini. “Ingat mati…!!” kata Dosen yang luar biasa itu.
Hmm… saat ini mungkin sisi idealisme kita (mahasiswa) masih begitu menggebu-gebu, “no korup… no kkn.. harus jujur” tapi setelah memasuki lingkungan kerja mungkin lambat laun sisi idealisme itu menjadi luntur, apalagi ketika tuntutan kebutuhan yang semakin meningkat, atau mungkin dengan penghasilan kita yang masih kurang ditambah lagi kesempatan yang terbuka. Ya, ujian sebenarnya adalah ketika memasuki lingkungan kerja, apabila kita masuk pada lingkungan yang korup, tantangannya adalah bagaimana anda bisa jujur, dan konsekuensinya adalah dikucilkan dan dibenci. Jika tidak tahan banting, mungkin akhirnya ikut nyemplung juga pada lingkaran kejahatan itu.
Mungkin sangat sulit untuk menghindarinya, tetapi selama kita bersyukur, dan menerima apa yang telah diberikan kepada kita, selain itu juga kita harus memikirkan bahwa dunia ini hanya sementara dan akhirnya kita akan mati, kebutuhan material itu tidak akan memuaskan keinginan kita jika terus dituruti. Jika kita menanamkan pemikiran itu, Insya Allah akan terhindar dari perbuatan tersebut.
Semoga saja semakin banyak orang dan pejabat yang memikirkan kebutuhan spiritualismenya, sehingga dapat mengesampingkan kebutuhan materialisme, sehingga negara kita menjadi negara yang maju.
Dan, semoga yang nulis artikel ini juga termasuk orang-orang yang memikirkan akhiratnya dan takut kepada derita yang lebih kekal di kehidupan selanjutnya.. Amiin

Iklan