Seminar Evaluasi Keberhasilan SRI

petaniKemarin (22/10/2013), setelah mengikuti workshop Evaluasi keberhasilan Sri yang diadakan di Aula kampus Instiper Yogyakarta, saya jadi sedikit mengenal tentang apa itu program Sri dan seputar masalah-masalah yang dihadapi. Target pemerintah untuk surplus padi ternyata masih dibarengi dengan masalah-masalah yang begitu rumit mulai dari masalah lahan, infrastruktur, SDM, Teknologi, modal, maupun kelembagaan yang masih belum baik. Disisi lain minat generasi muda akan pertanian yang semakin menipis, membuat inovasi inovasi menjadi tidak berjalan. Menurut Staff menteri pertanian bidang SDM, Dr. Hasyimm, DEA, “sebenarnya dana pemerintah yang masih banyak di bank, namun sistem perbankan indonesia menghambat penyerapan dana tersebut oleh petani, dan sebagai akibatnya, petani bertani menggunakan modal yang seadanya sehingga tidak mendapatkan hasil panen yang baik”. Pada workshop tersebut dipaparkan Program Sri, keberhasilan dan juga berbagai hambatan yang di alami di lapangan oleh Dinas Pertanian DIY, selain itu hadir pula sebagai narasumber Dosen Fakultas Pertanian UGM  juga perwakilan dari dirjen pertanian Kementan serta anggota DPRD Yogyakarta .

Nah perlu rasanya kita mengenal teknik Budidaya Padi Metoda SRI ( System of Rice Intensification ) atau Padi Tanam Sabatang ( PTS ), berikut adalah sedikit ulasannya (diambil dari http://teknologiinformasimultimedia.blogspot.com/2010/01/budidaya-padi-metoda-sri-system-of-rice.htmlhttp://teknologiinformasimultimedia.blogspot.com/2010/01/budidaya-padi-metoda-sri-system-of-rice.html)

SRI ( System of Rice Intensification ) merupakan teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktivitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara, terbukti telah berhasil meningkatkan produktivitas padi sebesar 50%, bahkan dibeberapa tempat mencapai lebih dari 100%.
SRI ( System of Rice Intensification ) adalah cara budidaya padi yang pada awalnya diteliti dan dikembangkan oleh Fr. Henri de Laulanie pada tahun 1984 di Pulau Madagaskar, dimana kondisi dan keadaannya tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Karena kondisi lahan pertanian yang terus menurun kesuburannya, kelangkaan dan harga pupuk kimia yang terus melambung serta suplai air yang terus berkurang dari waktu ke waktu, maka dikembangkanlah metoda SRI untuk meningkatkan hasil produksi padi petani Madagaskar pada saat itu, dengan hasil yang sangat mengagumkan. Saat ini SRI telah berkembang di banyak negara penghasil beras seperti di Thailand, Philipina, India, China, Kamboja, Laos, Srilanka, Peru, Cuba, Brazil, Vietnam dan banyak negara maju lainnya. Melalui presentasinya Prof. Norman Uphoff dari universitas Cornell, USA, pada tahun 1997 di Bogor, SRI diperkenalkan di Indonesia. Dan sejak tahun 2003 penerapan dilapangan oleh para petani kita di Sukabumi, Garut, Sumedang, Tasikmalaya dan daerah lainnya memberikan lonjakan hasil panen yang luar biasa.
Cara budidaya SRI sebenarnya tidak asing bagi para petani kita, karena sebagian besar prosesnya sudah dipahami dan biasa dilakukan petani. Metoda SRI ini dinamakan bersawah organik dan menghasilkan padi / beras organik karena mulai dari pengolahan lahan, pemupukan hingga penanggulangan serangan hama sama-sekali tidak menggunakan bahan-bahan kimia . Metoda SRI seluruhnya menggunakan bahan organik disekitar kita ( petani ) yang ramah lingkungan, dan bersahabat dengan alam serta mahluk hidup di lingkungan persawahan. Dari hasil penelitian dan percobaan oleh para ahli selama bertahun-tahun di berbagai negara menunjukan bahwa hasil yang diperoleh dengan metoda SRI sangat tinggi jika sepenuhnya tidak memakai bahan-bahan sintetis (kimia/anorganik) baik untuk pupuk maupun untuk pembasmi hama dan penyakit padi.

Prinsip dasar budidaya padi organik SRI terdiri dari beberapa kegiatan kunci dan prosesnya mutlak harus dilakukan agar hasil yang dicapai petani optimal.

Prinsip Padi Tanam Sabatang:
1. Penggunaan bahan organik (semua jerami dijadikan kompos dan dikembalikan ke lahan sawah sebagai pupuk dasar).
2. Bibit muda (umr 8-12 hari) dan ditanam satu batang per rumpun.
3. Air tidak tergenang terus menerus (penggenangan apabila diperlukan).
4. Penerapan konsepsi pengendalian hama terpadu PHT.
5. Penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari.
6. Bibit tanam satu pohon perlubang dengan jarak tanam 30 x 30, 35 x 35 atau lebih jarang.
Keunggulan metode SRI :
1. Tanaman hemat air, selama pertumbuhan mulai dati tanam sampai panen memberikan air max 20 cm, paling baik macak-macak sekitar 5 mm dan ada periode pengeringan samapi tanah retak (irigasi terputus).
2. Hemat biaya, hanya butuh benih 5 kg / ha.
3. Hemat waktu, ditanam bibit muda 5-12 hss dan waktu panen akan lebih awal.
4. Produksi meningkat, dibeberapa tempat mencapai 11 ton / ha.
5. Ramah lingkungan, tidak menggunakan bahan kimia dan digantikan dengan mempergunakan pupuk organik ( kompos, kandang, dan Mikro- Organisme lokal), begitu juga penggunaan pestisida.
A. Persiapan Bibit
1. Pembuatan persemaian
Pembuatan persemaian tidak harus digunakan pada lahan sawah, tapi dapat menggunakan baki atau kotak dari kayu atau bambu.
2. Penyeleksian atau pemilihan benih..
a. Ambil 1 ember, beri air sebanyak ¾ bagian
b. Masukan telur
c. Beri garam sambil diaduk-aduk, konsentrasi garam sudah cukup apabila telur sudah mengapung
d. Keluarkan telur, larutan garam tersebut siap digunakan untuk pengujian benih
e. Benih yang kan digunakan dimasukan ke dalam air garam kemudian diaduk-aduk
f. Benih yang mengapung dibuang, benih yang tenggelamlah yang digunakan sebagai bibit, karena pada prinsipnya “benih yang tenggelam tersebut adalah benih yang betul-betul bernas”
B. Persiapan Lahan
1. Pembuatan selokan
Petani membutuhkan kurang dari setengah penggunaan air, karena selokan menjadi sangat penting dalam PTS, sehingga mudah untuk pengaturan air dan pengenddalian hama keong mas.
2. Penebaran kompos
Pada saat pembuatan selokan juga bisa dilakukan penebaran kompos. Kompos selain sebagai sumber nutrisi juga dapat memperbaiki struktur tanah.
C. Penanaman Bibit
1. Kunci utama adalah pemindahan bibit ke lapangan atau transplantasi dilakukan lebih awal, yaitu pada saat bibit telah berdaun 2 helai. Biasanya bibit berumur 8-12 hari setelah semai.
2. Penanaman dilakukan secara hati-hati dengan satu (1) bibit per lobang tanam.
3. Posisi perakaran pada saat tanam dibuat seperti huruf “L”.
4. Jarak tanam dibuat lebih lebar, yaitu 30 x 30 cm, dengan itu akan memberikan kesempatan pada akar untuk lebih leluasa.
D. Penyiangan
1. Penyiangan gulma dilakukan seawal mungkin. Penyiangan dilakukan 7-10 hari setelah tanam.
2. Penyiangan gulma bisa dilakukan dengan tangan atau alat garok atau alat lain yang dapat membantu untuk menghilangkan gulma dan membenamkan gulma sekaligus memberikan kondisi aerasi agar perputaran dan pertukaran udara tetap lancar, supaya memperkuat pertumbuhan akar lebih cepat dan sehat sehingga mendukung pertumbuhan tunas awal lebih cepat.
3. Saat penyiangan, air sawah dalam keadaan macak-macak atau setinggi 1 cm. Air sawah dimasukan satu hari sebelum penyiangan agar saat melakukan penyiangan tidak keras.
E. Panen
1. Panen dilakukan 98 hari setelah tanam atau setelah tanaman tua atau ditandai dengan menguning dan masaknya gabah.
2. Panen dilakukan 105 hari setelah tanam atau lebih awal dibandingkan system tanam padi biasa (Konvensional).
Budidaya padi organik metode SRI mengutamakan potensi lokal dan disebut pertanian ramah lingkungan, akan sangat mendukung terhadap pemulihan kesehatan tanah dan kesehatan pengguna produknya. Pertanian organik pada prinsipnya menitikberatkan pada prinsip daur ulang hara melalui panen, dengan cara mengembalikan sebagian biomasa kedalam tanah, dan konservasi air mampu memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan secara konvensional.
Dasar pemikiran SRI kaitannya dengan irigasi yaitu :
1. Padi bukan tanaman air, tetapi tanaman yang memerlukan air.
2. Pada kondisi tanah yang tidak tergenang tetapi cukup lembab (macak-macak), oksigen tersedia optimal, akar tumbuh dengan baik, menyerap nutrisi lebih banyak, merangsang tumbuhnya anakan yang optimal, produksi meningkat.
3. Kebutuhan air irigasi berkurang, efisiensi pemakaian air naik.
Unsur-unsur yang penting :
1. Bibit muda, usia 7-14 hari, untuk mempertahankan potensi pertumbuhan anakan dan pertumbuhan akar yang optimal.
2. Tanam padi, dengan bibit tunggal, dangkal (1~1,5 cm), akar horizontal (l), jarak tanam lebar, waktu antara cabut-tanam < ¼ jam. mengurangi kompetisi tanaman dalam serumpun maupun antar rumpun.
3. Mempertahankan tanah agar tetap teraerasi, lembab, tak tergenang sehingga akar bernafas baik. perlu manajemen air dan penyiangan yang mampu membongkar struktur tanah.
4. Menyediakan nutrisi yang cukup untuk tanah dan tanaman, agar tanah tetap sehat dan subur.

SIstem SRI yang ramah lingkungan, hemat air dan juga baik untuk tanah, berhasil dilakukan di beberapa daerah, diantaranya daerah jawa barat (kerawang, subang, tasik malaya, dll), jawa tengah (Purworejo, dll), DIY (sleman, Gunung kidul, kulon progo dll). Keberhasilan itu ditunjukkkan dengan peningkatan produksi gabah mulai dari 20-40%. Namun disisi lain masih banyak petani yang ogah untuk menerapkan SRI karena terkesan repot. Menurut Dinas DIY infrastruktur irigasi yang juga telah banyak yang rusak juga menyulitkan petani dalam menerapkan SRI, selain itu juga banyak petani yang tidak mau lagi menggunakan sistem SRI karena repot, meskipun telah merasakan peningkatan hasilnya.

Sistem SRI menurut penelitian dari Fakultas pertanian UGM yang dipaparkan oleh pak Basuki, STp dapat meningkatkan produktifitas tanaman padi, selain itu juga dari perakaran, anakan yang lebih baik daripada pertanian konvensional.

Pemerintah perlu lebih baik lagi dalam menjalankan sistem SRI di indonesia, jika sistem ini di gunakan oleh setiap petani di Indonesia, saya rasa masalah kekurangan beras di Indonesia dapat dengan mudah di atasi. Selain itu juga perlu adanya perbaikan dan pembuatan sarana infrastruktur seperti Irigasi atau waduk yang lebih baik lagi, dan yang terpenting adalah pendidikan bagi SDM Indonesia, sehingga dapat tercipta inovasi-inovasi baru dibidang pertanian.

“Ya, Petani lebih baik, Hidup generasi Petani..!!, petani sejahtera negara kita pasti maju” itu kataku, bagaimana menurut anda?

Iklan

One response to “Seminar Evaluasi Keberhasilan SRI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s