Mengapa Harus Takut Pada Hujan?

Awan mendung, gelap gulita pertanda hujan kan turun dari langit. Aku menatap keatas dan berharap, “ ya Tuhan tolong jangan kau turunkan Hujan sebelum aku sampai kerumah”  konsentrasi belajar mulai memecah ketika suara Pak guru yang sedang bercerita seolah terbenam  oleh riuh hujan diluar sana. Aku menengok kedepan keatas papan black board, disana tergantung sebuah benda berbentuk lingkaran yang selalu bergerak pertanda waktu, Pukul 13.25 hampir selesai.

Aku lihat kawan kawan sekelasku mulai berkemas, terdengar riuh anak anak kelas lain yang sudah terlebih dahulu keluar,  kami pun semakin tidak sabar tuk menyambut kebebasan dari pelajaran pelajaran dan ceramah yang membosankan itu. Pak Guru pun seolah telah lalah mengajar kami, mungkin karena suaranya yang keras terkalahkan oleh nyanyian hujan dan riuh anak anak kelas lain sehingga dia pun mulai bergegas berkemas.

Akhirnya, bel sekolah tanda akhir belajar berbunyi, kami berteriak bergembira. Pak Guru mengucapkan salam terakhir sebelum kami kembali kerumah masing masing, dan bergegas keluar ruangan.  Kami pun ikut keluar ruangan mengikuti langkahnya, beberapa kawan memilih untuk duduk di dalam ruang kelas sembari menunggu hujan reda.

Di luar, suasana begitu ramai, bagaikan dalam kerumunan antrean warga sedang menunggu sembako.  Tubuhku yang kecil memudahkan ku untuk menyelip diantara ramainya penduduk sekolah dan langkahku terhenti di ujung jalan di depan hujan gerimis menghadang, bila harus menunggu mungkin butuh waktu lama. Aku malas untuk membawa payung dari rumah walau nenekku selalu mengingatkanku agar selalu membawa payung ketika bersekolah.

Diantara keriuhan warga sekolah, terdengar suara yang aku kenal memanggilku dengan suara lantang “ Kih, pulang yuk..! siapa yang samapai rumah duluan dia yang menang” katanya menantang. Dia adalah Makfud, teman berjalanku dari kelas IPS. Seolah tertantang, tanpa memperdulikan air hujan yang membasahi aku pun turun mendatanginya. Kami mulai berlari dengan sekencang kencangnya, satu dua tiga orang yang berjalan dengan payungnya terlewati. Aku seolah berjalan diantara derasnya air.   “ Ayoo..,” teriakku, kami saling mengejar  hingga nafasnya tak mampu lagi buatnya berlari.  “ udahlah, berjalan saja aku sudah tak mampu lagi” katanya sambil terengah engah. “ baik lah kita berjalan saja” Ungkapku. Kamipun berjalan menuju rumahnya yang hanya 500 meter dari sekolah. Ditengah jalan, terdengar suara hujan lebat mengejar dari arah belakang, dia pun berlari dan spontan aku berteriak “ gak usah lari Put…! Sudah terlanjur basah, kita nikmati saja hujan ini, kenapa harus takut.” Ia pun menghentikan larinya dan berjalan perlahan menungguku dan aku mempercepat langkahku. Kami pun berjalan perlahan menyusuri jalan kecil beraspal sembari menikmati hujan, terlihat Gunung gunung di sekeliling ku yang berselimut kabut putih, sungguh panorama yang indah. Di kiri kananku sawah nan hijau membentang luas menambah kehangatan di dalam dinginnya hujan.

Dia asyik menari nari, melompat diantara genangan air di jalanan, percikan air yang kotor menimbulkan suara “cik.. cik..” asyiknya hari itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s