Jalan Jalan Sore ku Di Ketapang

Sore hari, dengan motor kesayangan ku mencoba hilangkan penat ku seusai kuliah yang melelahkan. Modal bensin se liter sudah cukup tuk keliling kota ketapang. Pertama di mulai dari rumah (Kalinilam) berjalan ke timur menuju Makam Pahlawan, jalan yang lurus dan halus membuat perjalanan ku menjadi tak terasa, sampai simpang empat makam pahlawan  aku jadi ragu, ” mau kemana ya? ke kiri atau kanan, lurus saja dah”. Aku berjalan ke arah Hutan kota, wah jalannya agak rusak, goncang kanan goncang kiri, putar kanan putar kiri. kiri kanan masih semak belukar, hanya sedikit rumah yang berdiri. Di depan terlihat jalan setapak menuju tepi sungai Pawan aku jadi penasaran, “coba deh mampir dulu” pikir ku. Tampak sebuah tempat bekas sawmill atau tempat pengolahan  kayu, berdiri di sampingnya sebuah rumah kayu yang ternyata ada penghuninya. Melihat ke kanan, terlihat gedung tinggi berwarna putih yang menjulang ke langit, ternyata rumah walet. di depan, ada sebuah Kapal motor usang yang tampaknya sudah tak di gunakan lagi, sebagian badannya sudah tenggelam tinggal sebagian atasnya saja yang terlihat. “Hmm, mumpung ga ada orang, take picture dulu ah”

Perahu motor usang

Cukup lama aku berdiri di atas perahu motor usang ini sembari menikmati indahnya panorama tepian sungai pawan yang indah, semilir angin seolah semakin menambah kenikmatan itu ” Sungguh karunia Allah maha Besar, semoga sungai ini tetap terjaga keindahannya”.

Puas berdiri di atas perahu usang, aku melanjutkan Jalan Jalan Sore saya, menelusuri jalan beraspal yang berbatu agak nya membuat posisi duduk saya menjadi tidak nyaman, “hmm kapan pemerintah memperbaiki jalan ini ya? ” tanyaku dalam hati.

Setelah berjalan dengan motor usangku sekitar 10 menit, sepanjang jalan aku bertemu dengan pemuda pemudi ketapang dengan motor mereka, ” ada apa rame-rame nie?” pikir ku dalam hati. Penasaran, ku kencangkan  sabuk pengaman helm ku, ku pegang kuat kuat gas motor ku, tancap ” Bremmm.., bremm” suara motor ku seolah menjerit. Laju motorku tak tertandingi, debu mengepul membuat hidungku agak terganggu, mataku kelilipan ” aduh” jeritku sambil kucek kucek mata. Di depan terlihat bangunan megah berwarna kuning berbaur kan sedikit warna hijau khas Ketapang.

Sebuah kompleks bangunan khas melayu berdiri megah di tepi sungai Pawan. ” O, rupanya mereka pada kesini ya,” ungkapku dalam hati. Terlihat muda mudi bercanda sambil meenteng Handphone berkamera, mereka saling bergantian mengambil gambar sembari mengahabiskan sore bersama sahabat tercinta. Tak mau ketinggalan, ku keluarkan Hanphone tercanggih kesayangan ku ber goreskan angka 3500 di layarnya, Nokia 3500 classicc ku ambil dari sakuku,  bergaya kan photografer profesional  ku ambil beberapa gambar dari tempat itu.

Rumah adat

R. adat

Ku langkah kan kaki ku mengelilingi bangunan itu, tampak hilir mudik pengunjung memasuki tempat itu, ku naiki tangga dari kayu yang lumayan tinggi,” hmm, di dalamnya kok nampak ndak terawat, wezz gimana nie”  di luar pun banyak sampah, tempat sampah pun nampaknya tak tersedia.

Menjelang sore, ku lanjutkan jalan jalan ku menuju tepian jembatan pawan 1, perjalanan ke sana penuh dengan kendaraan bermotor (roda dua), anak anak muda Ketapang hilir mudik menghabiskan waktu sore mereka untuk jalan jalan. “Wah rame nya, pelan pelan saja lah, yang penting slamet” pikirku. akhirnya sampai juga di tepi sungai Pawan di dekat Jembatan Pawan 1, sekali lagi ku ambil Kamera Handphone ku dari kantong celana ku, take the last picture.

Jembatan pawan 1

Nampak indah, menikmati matahari tenggelam sembari diiringi sepoi angin sore. Memang indah, menengok di tepian sungai yang banyak pemukiman berdiri diatasnya, banyak Sampah berserakan, plastik, kertas, dll ” bercampur aduk , “Nampaknya banyak PR yang harus di kerjakan oleh pemerintah Daerah jika ingin memajukan sektor pariwisata, sampah sampah harus di bersihkan kalau tidak, mungkin 5 atau  6 tahun sungai pawan jadi mirip sungai Ciliwung di Jakarta,  padahal Sungai pawan memiliki potensi sebagai Ekowisata di wilayah Ketapang, tinggal bagaimana pengelolaan  pemerintah daerahnya  “. pikirku

Suara Adzan bergema di seluruh kota, tanda waktu magrib sudah tiba, baiknya aku pulang ke rumah dengan membawa oleh oleh cerita dari petualanganku hari ini, semoga anda menikmati cerita ini.

SUPPORTED BY

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s