Kisah ku

on

aku sungguh menyukai senyuman itu , aku sungguh bahagia menatap indah matanya itu. Hatiku damai dengarkan lantunan merdunya. Aku suka,aku Cinta,aku Sayang kepadanya. Aku ingin ungkapkan perasaan ini kepadanya agar dia tahu apa yang ku rasakan kini “Aku Jatuh cinta kepadanya” Namun, Aku merasa aku tak pantas untuk dia miliki, aku belum siap tuk  menikahinya.

Aku tak kaya, bukan pula pujangga yang dia idam idamkan. Aku juga bukan seorang yang mampu tuk buatnya tersenyum. Aku tidak seindah yang dia harapkan dan aku juga tak sepintar yang dia pikirkan. Tapi aku juga manusiayang mempunyai rasa cinta. Terkadang terlintas dalam benakku, ingin memendam dalam dalam rasa ini di dasar hatiku, biarlah saja aku dan Tuhan yang tahu.

Namun,Aku tak bisa sembunyikan perasaan ini, Jantungku berdegup kencang saat kau ada di dekatku,keringat dingin menetes tanpa sadar di sekujur tubuhku. Aku grogi, tubuhku gemetar seolah tak mampu untuk dekat dekat denganmu.

Terbayang,kau dan aku bergandeng tangan, berbincang mesra dengan tatapan yang mesra pula ditengah taman yang dikelilingi bunga bunga indah, warna warni. Tiba tiba, terpikirkan olehku “Apa yang akan ku bincangkan dengan nya jika dia  menerima ungkapan kata cintaku. Kemana harus ku ajak dia pergi untuk berdua duaan? dan dengan apa aku harus membawa nya pergi?

Ku tengok kantung saku ku, hanya sekeping rupiah yang bergambarkan bunga melati dan bertuliskan angka 500 rupiah,uang sakuku dalam sehari. Terlintas dalam benakku, “Mana mau di dengan aku? Duit pun tak ada, mau kasih makan apa buat ngedate. aku melanjutkan perjalanan pulangku melewati rimbunan  padi  yang hijau.

Terbayang kembali saat dia menyapaku tadi pagi dengan motornya,” tiit” suara klakson motor nya membuyarkan konsentrasiku. Rasa amarah tiba tiba muncul dalam hatiku berkata, “ Siapa sih? mengganggu orang sedang berjalan saja”. Aku menatap ke sampingku dan tiba tiba rasa marah itu pergi berganti dengan rasa senang, gembira dan semangat. semangatku seolah seperti batrai yang baru saja di charge penuh saat menatap sepasang mata bening berbalutkan kerudung putih bersih dengan senyuman yang menyejukkan. Langkah kakiku pun  terpacu ingin mengejar laju roda roda itu, namun langkahku kalah jauh dengannya.

“ hmm, aku tak bisa naik motor, motor pun tak punya, mobil apalagi. Cuma modal kaki doank mana mungkin dia mau” pikirku pesimis. Benar saja, dia adalah seorang yang cukup ningrat, terkadang dia sering bergonta ganti motor, namun sebaliknya aku adalah seorang yang hanya numpang dirumah nenek dengan mengandalkan kiriman dari ortu yang merantau di seberang. terbayang dalam pikiranku “Mungkin akan lebih indah jika dia ku ajak berjalan saja ke sekolah sembari nikmati panorama Indah, berjalan berduaan berbincang mesra, bercanda bersama sejuknya udara pagi” Namun, Apakah dia mau? Berjalan berkilo meter dengan ku yang kucel ini.

Tak terasa sudah setengah jam aku berjalan, akhirnya tiba di sebuah rumah tua beratapkan genteng yang sudah berlumut. Terduduk di atas kursi yang sudah reot, sembari menghilangkan penat satu persatu ku lepaskan sepatu yang berbau menusuk hidung, aroma kakiku.

Malam itu aku gelisah, rasa rindu benar benar menusuk hatiku. Terbayang bayang saat dia tersenyum manis kepadaku, anggun jalannya laksana permaisuri yang berjalan perlahan menuju istananya.  Raut mukanya laksana bidadari surga, matanya bening, bibirnya manis di tutupi dengan kerudung putih bersih dan Nampak berkilau. Sungguh pesona yang membuatku tak berdaya.

Sebelum tidur, terpikirkan olehku untuk ku ungkapkan rasa yang selalu menghantuiku. Untuk itu aku putuskan, untuk ungkapkan Rasa Cintaku kepadanya agar dia tahu apa yang aku rasakan.

Siang itu, saat semua siswa menghabiskan waktunya untuk beristirahat. di sebuah tempat yang penuh dengan sesak motor yang sedang di parkir aku telah berhadapan dengan nya. Gelisah, grogi, bercampur aduk dalam pikiranku ketika berhadapan dengannya, Aku hampir tak mampu tuk berkata kata. Dengan segenap keberanianku, ku paksakan bibir ini untuk berucap “ A Aku Ci Cinta Sama Ka mu” Akhirnya, kata itu terucap juga. Betapa leganya hatiku seolah aku telah melepaskan beban berton ton dari tanganku.

Tak lama kemudian, sembari tersenyum manis, dari bibirnya yang manis terucap “maaf ya, saya sudah punya kekasih, lebih baik kita berteman saja”. Mendengar kalimat itu, aku hanya mampu tersenyum pahit. Dalam hatiku bercampur aduk antara rasa syukur dan juga patah hati. Spontan hatiku menangis bercampur syukur bersyukur karena dia tak menerimaku sehingga tak akan membuatnya menderita menangis karena aku tertolak olehnya. Hatiku seolah tertusuk jarum tajam, teriris iris oleh pisau yang tajam, sakit sekali.

Sudah kuduga sebelumnya, pasti dia tak akan menerima cintaku, akan tetapi aku bersyukur karena hal itu, aku menjadi lebih tegar dan lebih dewasa.  Mungkin salah ku juga karena aku mencintai seseorang yang perfect sedangkan aku hanyalah pemuda desa yang kucel dan apa adanya.  Memang dalam Cinta kita harus siap untuk merasakan hal yang seperti ini.  meski tersakiti olehny, entah mengapa masih tetap mencintainya. Dalam aku Aku berjanji aku akan mencintainya sampai kapanpun meskipun dia tak kan pernah kumiliki.

Kini semua telah berlalu,  mungkin dia telah temukan kebahagiaan di seberang sana, aku hanya berharap, semoga kita kan berjumpa lagi dengan senyumanmu yang ku harap masih seperti yang dulu. Aku suka senyuman itu.

6 Comments Add yours

  1. Haris Istanto mengatakan:

    Selamat malam, posting yang menarik, salut untuk anda.
    Silahkan kunjungi Blog kami http://www.harisistanto.wordpress.com, baca posting baru berjudul : “Proses kerja usaha cuci sepeda motor?”, serta artikel lain yang bermanfaat, dan kalau berkenan tolong dikasi komentar.
    Terima kasih.

    1. Habibillah Faqih Arif mengatakan:

      malam juga, thanks udah mampir

  2. Arisa zulhiqmah mengatakan:

    Bagus…
    I Like that…

  3. Arisa zulhiqmah mengatakan:

    GooÐ…
    I Like it…🙂

  4. MANGARANAP SIMATUPANG mengatakan:

    Dalam cinta ketika ada yang berbeda jangan mencari siapa yang salah karena kamu dan dia adalah tim yang sama dengan tujuan yang sama

    1. Habibie Arif mengatakan:

      Berhenti jadi pengecut… kalau mau nasehati langsung aja.. telpon saya .. ada nomer hapenya kok…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s