GURU YANG MEMBERI INSPIRASI


Malam Sabtu, secara tak sengaja ketika sedang ayik mengutak atik remote gonta ganti channel, tiba tiba, saya tertuju pada sebuah acara Talk Show yang di presenteri Oleh Andi F. Noya, salah satu program andalan dari Sebuah stasiun televisi Swasta. “Kick Andy” inilah acara yang benar benar member inspirasi dan semangat bagi para penyaksinya. Sebuah talk show yang mengupas tentang keseharian dan pengalaman narasumbernya yang inspiratif. Malam itu acara tersebut mengupas tentang pendidikan yang berkaitan dengan pertukaran Guru Indonesia ke Australia. Sungguh inspiratif, sehingga saya sampai tidak sempat mengganti Channel ke Stasiun TV manapun karena tidak ingin ketinggalan acara yang satu ini.

BRIDGE: benar benar membangun

Bridge atau   Building Relationship and Growing Engament Australia – Indonesia, merupakan program pertukaran guru dari Daerah daerah di Indonesia ke Australia, Di Benua Kanguru itu para guru belajar dan mengajar di sekolah-sekolah setempat dan tinggal di rumah-rumah guru yang tentu saja warga Australia.  Banyak manfaat yang bisa kita ambil dari program ini, karena selain menambah pengalaman Guru tersebut juga dapat mncontoh dan mempraktekkan cara mengajar di negeri Kangguru ke sekolah asal .

Saya kagum dengan beberapa guru yang di undang untuk menjadi Narasumber dalam Talk Show tersebut, mereka sungguh bersemangat, kreatif, inovatif, komunikatif dan juga inspiratif. Semangat mereka patut untuk kita tiru dan kita jadikan tauladan. Perjuangan dan kegigihan mereka membawa perubahan dan keberhasilan pada sekolah tempat mereka mengajar. Kita sebagai pelajar yang telah lebih beruntung dengan keadaan kita yang penuh dengan fasilitas yang menunjang untuk belajar dan berkreasi harusnya tidak boleh kalah dengan mereka.

Ide Pak Ahmad Fais

Seorang guru yang hidup dengan penuh perjuangan dan kerja keras sehingga ia mampu menjadi salah seorang Guru yang terpilih mengikuti program BRIDGE ke Australia. Sewaktu kecil ia telah di tinggalkan oleh Ibu yang dia sayangi, dan ketika SMA dia juga di tinggalkan Ayahnya untuk selama lamanya. Ia hidup dan sekolah dengan biaya sendiri yaitu dengan Menjual Ayam ayamnya.  “ anda bisa kuliah karena ayam, ”berarti anda harus berterima kasih kepada ayam!”  kata Andi sambil tertawa. Ahmad Faiz kini mengajar di peguruan Al Hikmah  Surabaya dan pernah mengikuti program BRIDGE ke Australia pada 2009 lalu.

Pin Ajaib

“Pin” adalah sebuah pernak pernik yang biasa di pakai oleh anak anak muda sekarang, pin berbentuk bulat dan biasanya di hiasi dengan berbagai gambar atau tulisan yang menarik. “Pin ajaib” itulah sebutan saya untuk ide pak Ahmad Faiz kali ini. Bayangkan, hanya dengan memakai pin yang bertuliskan “Speak English With me” guru guru dan staff , siswa hingga penjaga kebersihan di lingkungan sekolah Al Hikmah menjadi bisa berbahasa Inggris. Benar benar  hebat , pin yang bertuliskan “Speak Inggris With me” mengharuskan setiap pemakainya untuk menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan orang lain disekolah, sehingga mau tak mau semua orang yang memakainya harus  berbahasa dan berlatih menggunakan bahasa Inggris agar dapat berkomunikasi dengan orang lain. Sungguh ide yang kreatif, tunggu apa lagi, ayo kita praktekkan ide ini agar cepat lancar berbahasa Inggris.

Disiplin dan Religius

“Di Australia guru harus datang ke kelas sebelum murid masuk,”kata Ahmad Fais serius. Makanya di Sekolah Al Hikmah, sebelum guru mengajar 15 menit sebelum bel masuk, digelar “morning briefing” ungkap pak Faiz, itulah cara berdisiplin yang di terapkan di sekolah Al hikmah. Di acara morning briefing itu setiap guru selain mengaji, membaca ayat-ayat suci Al Quran juga menceritakan persoalan yang lagi hangat dalam bahasa Inggris. “ Sebelum memegang Siswa guru harus memegang (membaca) alquran terlebih dahulu” ungkapnya dengan bangga. Subhanallah, sungguh luar biasa, disiplin di kombinasikan dengan nuansa Islami tentu akan membawa suatu pekerjaan menjadi keberkahan yang hakiki.

Penghargaan dan Apresiasi bagi para Murid

Penghargaan atau pujiansering kali  terlupakan di pendidikan Indonesia,  penghargaan biasanya hanya di adakan setiap kali kenaikan kelas atau penerimaan Raport. Itu pun sering kali hanya di peruntukkan bagi peringkat 1,2 dan 3. Terkadang  penghargaan hanya di berikan bagi yang berperingkat 1-3 umum ( satu sekolah) bukannya perkelas, hadiahnya pun hanya peralatan tulis menulis saja. Hal itu seringkali menjadi mengerucutkan semangat belajar Siswa.

Berbeda halnya dengan pendidikan di Australia,  apresiasi dan penghargaan kepada siswa benar benar di junjung tinggi. Adalah seorang guru bahasa Indonesia yang berasal dari Surabaya, yang juga ikut dalam program BRIDGE ke Australia yang telah merasakan betul perbedaan itu. “Kalau di sana, Setiap apa yang di lakukan Siswa akan mendapat apresiasi oleh gurunya, Seorang siswa yang telah mengerjakan PRnya dan dikumpulkan kepada gurunya, lalu Gurunya memberikan Apresiasi “ You are Very Good,” padahal menurut saya tugas jelek seperti itu saja kok di bilang Very good” ungkap pak Abdul Latif. hal itu mennjukkan besarnya apresiasi guru terhadap kerja keras siswanya, seberapa pun hasilnya.  Kemudian, pak Abdul Latif, mencoba mempraktekkan nya di sekolahnya. “jadi kalau setiap usaha dan keberanian siswa itu dinilai maka setiap siswa akan menjadi termotivasi dan lebih aktif dalam belajar”.

Cara mengajar pak Johannes budi

Cerita menarik lainnya adalah yang dikisahkan Johanes Budi atau akrab disapa Pak Budi. Pria asal Yogyakarta itu mengikuti program Bridge dan dikirim ke Australia pada 2009 lalu. Sepulang dari Benua Kanguru, Pak Budi langsung menterapkan pengalamannya di tempat ia mengajar yaitu di SMK Kesuma, Mataram, Lombok. Dengan peralatan seadanya Pak Budi yang terkenal di kalangan murid-muridnya itu membuat sejumlah alat peraga dan ditempelkan di dalam ruangan kelas. Di ruangan kelas yang tadinya kosong dan bersih diubah sedemikian rupa, sehingga penuh dengan pernak-pernik alat peraga. Dengan sejumlah pernak-pernik itu akan memudahkan siswa untuk mengingat dan menghafal. Pengalaman menarik selama mengikuti program Bridge bagi Pak Budi adalah ia sering diundang untuk mengajar di berbagai sekolah di Australia. Para guru di Australia banyak yang tertarik dan terkesan cara mengajar Pak Budi. Selain atraktif, Pak Budi juga selalu mengenakan baju tradisional Lombok ketika mengajar.”Bahkan akibat ulah saya ini, saya pernah ditulis dan masuk di salah satu surat kabar setempat,”kata Pak Budi bangga

Meja Bundar

Bahri dan Sally Kharisma Putri, Kedua guru asal SMU Negeri Palembang, Sumatera Selatan itu akan meniru cara mengajar di sekolah negeri di Kingscote, Kangaroo Island, Australia. Menurut mereka, sistem mengajar di Australia bisa ditiru terutama adalah dengan formasi duduk para siswa. Jika di Indonesia posisi bangku para murid berjajar dari depan ke belakang, maka akan diubah dengan melingkar. Ini dimaksudkan agar guru dan siswa bisa lebih interaktif, tidak satu arah. Sehingga Guru bukan sebagai sumber ilmu, akan tetapi sebagai perantara untuk mereka belajar.

Nah, dari pengalaman mereka, banyak yang dapat kita pelajari dan kita tiru, mulai dari kedisiplinan, apresiasi, cara mengajar dan lain sebagainya, sehingga di harapkan bahwa seorang guru tidak hanya menyampaikan ilmu akan tetapi mendidik dan membuat siswa menjadi semangat untuk belajar.

lebih lengkapnya lagi bisa nonton video nya di sini

Supported by.

One Comment Add yours

  1. ASMIANTI SIAGIAN mengatakan:

    Sebenarnya tantangannya bukan me-manage waktu tapi me-manage diri kita sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s