Pengalaman Memalukan; Gara Gara Sendal Merah

Aku ingin sedikit bercerita tentang masa kecilkun yang agak memalukan.

12 tahun yang lalu, disebuah desa transmigrasi tinggal seorang anak kecil mungil, badannya kurus, pendek dan kulitnya Cokelat kehitaman. Rambutnya tipis lurus, hitam kemerahan karena sering diterpa panas matahari. Suaranya kecil dan lantang tapi agak celat (bhs jawa, ciri=cili).
Seperti biasanya, siang itu aku bersiap siap untuk menimba ilmu di sebuah sekolah dasar yang berlantaikan dan beratapkan kayu belian yang terkenal kuat dan ketahanannya. Bangunan ini memanjang dari arah utara ke selatan menghadap ke arah timur, di bawahnya ada kolong tempat kami memarkir sepeda sepeda usang dan tempat kami bermain di waktu Istirahat. Di kelilingi oleh pagar papan bercatkan putih yang ujung ujungnya lancip. Halaman depan yang luas merupakan tempat dimana kami bermain bola dan berlari larian. Halaman belakang terlihat tanaman tanaman yang tertata rapi, yang terbagi menjadi 6 kelompok mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Ruang kelas kami yang tidak sesuai dengan jumlah siswanya memaksa untuk bergantian dalam menggunakannya, kelas 1,2,6 pagi hari, sedang kelas 3,4 dan 5 siang hari. Jam pagi dimulai dari pukul setengah delapan.
Jarak sekolah dari tempat tinggalku sekitar 100 meter sehingga cukup berjalan saja untuk pergi ke sana. Siang itu, aku bersiap siap berangkat, dengan memakai baju putih yang mulai menguning, celana merah yang cekak dan bersabukkan sabuk dari kain. Tak lupa minyak urang aring ku usapkan ke rambut tipisku, tampak mengkilap jadinya. Buku dan peralatan tulis sudah aku siapkan sedari malam, dengan percaya diri aku melangkahkan kakiku keluar, sebelumnya aku berpamitan kepada Ibuku tercinta. Dengan Percaya diri aku mulai melangkah, maklum sehari sebelumnya aku di belikan sendal jepit “Jumbo ” berwarna merah agak muda yang kini ku kenakan di kaki ku, waktu itu bersekolah tak perlu bersepatu (maklum ndeso pedalaman), sepatu menjadi sesuatu yang sangat di Idam idamkan disana, biasanya orang kampung telanjang kaki untuk kesekolah. Sendal merah yang tebal yang sangat familiar di kalangan masyarakat kami adalah sendal bertuliskan “jumbo” di bungkusnya, selain awet dan tebal, sendal ini nyaman di kaki (wah, kok malah ngiklan). Hmm., dengan sendal gaya merah itu aku berangkat kesekolah agak awal, rencananya ingin menghampiri di rumah kawan sebelah, jaraknya sekitar 20m, aku berjalan perlahan melintasi jalan merah depan rumahku, melewati pekarangan rumahku teduh oleh pohon sengon yang tinggi dan rindang, tak lama kemudian pemandangan pohon sengon berubah menjadi pemandangan kebun nangka yang tak kalah rimbunnya, sembari clingak clinguk, toleh ke atas, pasang penciuman aku berjalan, “kali aja ada nangka yang masak” pikirku dalam hati. Akhirnya sampai juga di gerbang rumah kawanku, yang kiri kanannya adalah pokok nangka, sekitar 10meter dari jalan. Perlahan aku berjalan kerumahnya, namun tidak lewat depan tetapi lewat pintu belakang maklum sudah terbiasa. Adalah rumah kawan sekelasku yang juga tetangga ku, Astri namanya, seorang perempuan yang tubuhnya lebih besar dari tubuhku, kekar dan rambutnya hitam lurus tebal agak kriting, berkulit sawo matang agak kehitaman. Dia juga mempunyai 1 kakak dan 1 adik, kakaknya Uning namanya, kulitnya kuning langsat, senyumnya manis rambut lurus hitam panjang( wah jan pokoe mantep) yang juga bersekolah disekolah yang sama, kakak kelas kami. Adiknya petty yang masih duduk dikelas1 yg juga teman main ku yang juga ada disana, berkulitkan cokelat sawo matang, badannya hampir sama denganku, suaranya lantang dan tegas.
Tanpa permisi aku langsung masuk maklum pinta ndak di tutup. Aku memanggil manggil Astri ” Astri, Wez siap po durung kowe? Cepet selak masuk! (bhs jawa= Astri udah siap belum kamu? Cepat hampir masuk!) teriak ku. ” Yoh sek, gek siap siap ki, munggaho dhisik, gek garap PR ki !(ya, tunggu, lagi siap siap, naiklah dulu, lagi ngerjakan PR ni!)” jawabnyanya. Cepat cepat aku lepaskan sendalku di lantai tanah yang penuh dg sandal pemilik rumah, perlahan aku menaiki tangga yg tidak terlalu tinggi, rumah kami yang merupakan rumah jatah transmigrasi berbentuk panggung dengan lantai , jendela, tembok, pintu yang terbuat dari kayu dan beratapkan asbes, bercatkan putih dg nomor rumah di depannya. Setelah masuk, terlihat seorang perempuan kecil sedang duduk berhadap buku di depannya, sembari gelang geleng dia mengerjakan PRnya dengan khusyuk. “cepat lah, wiz jam piro iki?(udah jam berapa ni?)” desakku tak sabar, “coba deloken nang ngarep (tengok di depan) jawabnya santai. “wez jam 11 kurang seprapat ki, cepet mengko telat! (sudah jam 11 kurang seperempat, cepat nanti telat)” jawabku tergesa gesa. Secepat kilat Astri, memasukkan bukunya kedalam tas kecilnya, ” yuk cepet.,!” ajaknya. Dengan tergesa gesa kami pun berangkat ke sekolah, aku bahkan tak melihat ke bawah saat memakai sendal jepitku. Dengan setengah berlari, kami menuju ke sekolah lewat jalan belakang, di kiri dan kanan tertanam semangka yang mulai membesar. Jarak sekolahku sekitar 500 meter sari rumah kawan ku. hanya butuh sekitar 10menit untuk sampai ke sekolah dengan kecepatan 50m/menit.Nah, perjalanan kami dengan setengah berlari dapat mencapai 5 menit saja, teapi keringat sudah bercucuran karena ngos ngosan di tambah dengan pemanasan 30 derajat celcius oleh matahari. Bau kecut sudah mulai menyebar saat kami memasuki ruang kelas yang berlantai kayu. Ternyat Gurunya juga agak terlambat, sehingga kami harus menunggu beberapa menit sembari melepas penat.

Setelah beberapa menit, akhirnya datang juga Pak Guru dengan rambut lurus klimis rapi dengan aroma khas Gatsby. badannya agak gemuk, tingginya kira kira 160 cm. Dengan senyum nya dia menyapa kami, “selamat pagi anak anak” . Dengan serempak kami menjawab “selamat pagi pak guru”.

Akhirnya, tak terasa Pak Guru telah mengajar kami sekitar 2jam kami pun bersiap siap untuk Istirahat. Namun, sewaktu kmi belajar, kami terbiasa melepas sendal di bawah meja kami sembari menggoyang goyangkan kaki. Nah, tiba tiba, saat aku ingin keluar kelas, aku melihat teman sebelahku memakai sendal”jumbo” merahku yang baru kemarin aku beli. Secara spontan aku pun menengok dibawah mejaku, ternyata sendalku telah berubah menjadi warna hijau buruk yang sudah usang. akupun langsung menghadang kawanku yang ingin keluar kelas untuk istirahat. Lalu aku bertanya kepadanya, ” sendal siape yang kau pake ni? “, “sendalku ni!” jawabnya lantang. aku pun langsung merebut sendal itu dari kakinya, dan berteriak” sendal ku Sendalku..!”. Dia pun tak mau mengalah kamipun saling menarik sendal merah itu dengan sekuat tenaga. Saking kuatnya, akupun tergelincir, terjadi pertengkaran heboh memperebutkan sendal jepit merah yang berharga bagiku, akupun berteriak “sendalku, sendalku..! sendalku..! balikin donk!”. Aku pun kalah dan menangis merengek rengek. Pak Guru pun datang dan menenangkan suasana, setelah mengalami persidangan karena kalah bukti dan saksi  akhirnya gugatan di menangkan oleh kawanku itu. dengan terpaksa aku pulang dan menrima kekalahan ku, kecewa, dan harus bilang apa kepaada kedua ortuku soal sendal baru yang hilang itu, Lalu aku berpikir dalam hati” mungkin ketinggalan ya, di rumah Astri” . Aku pun mampir sebaentar kerumahnya, dan mencari cari sendal jumbo merah itu, dan ternyata ketemu, sendal itutergeleta diantara sendal sendal lain milik kawanku, dan sendal yang ku akai ternyata milik bapak Astri. Akhirnya aku jadi maluu deh,, malu bangeet.

Keesokan harinya ketika berada di sekolah aku pun di ejek kawan kawan sekelasku terutama kawan yang telah kutuduh mengambil sendalku, maluu benget. Aku pun meminta maaf kepadanya, kami berdamai (PEACE man). Itulah pengalamanku yang sangat memilukan dan juga memalukan sekaligus membanggakan dan tak terlupakan tentunya, semoga dapat memetik hikmah dari cerita ini.

About these ads

5 thoughts on “Pengalaman Memalukan; Gara Gara Sendal Merah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s